PENTINGNYA MEMAHAMI KONSTRUKSI BANGUNAN HIJAU

by | Mar 8, 2020 | Ilmu Sipil | 0 comments

Archives

Cari Berdasarkan Kategori

Recent Comments

Klik Play untuk mendengarkan rangkuman audio dari artikel berikut

[player id=’9609′]

 

Perubahan iklim atau climate change saat ini sedang menjadi isu yang ‘panas’ dan sedang kita rasakan. Contohnya beberapa waktu lalu, bumi berada dalam suhu yang sangat panas. Hal ini perlu dianggap serius karena aktifitas manusia adalah salah satu penyebab hal ini terjadi. Aktifitas yang dimaksudkan adalah penggunaan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi lingkungan.

Green Building

Ilustrasi Green Building (Sumber Gambar : Scott Webb from pexels,com)

Berbicara mengenai ramah lingkungan, dewasa ini banyak aktifis lingkungan yang membuat pergerakan dan petisi untuk menyadarkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan. Gerakan ini diharapkan membuka mata publik untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi untuk menghindari masa depan bumi yang suram. Gerakan ini mendapat lampu hijau dari banyak pihak yang mengindahkan petisi ini, termasuk pihak yang mengambil bagian dalam bidang konstruksi.

Industri konstruksi merupakan salah satu industri yang dalam prosesnya bersifat masif atau besar-besaran serta memanfaatkan berbagai macam alat dan bahan yang pasti beberapa diantaranya berbahaya bagi lingkungan. Contohnya aktifitas deforestasi atau penebangan hutan. Tahukah anda? Dengan melakukan kegiatan deforestasi, anda menyumbang 18,3% emsisi gas CO2. Hal ini miris sekali karena anda harus mengorbankan sesuatu yang esensial dari alam demi proyek yang jelas semakin merusak lingkungan. Oleh karena itu, didukung oleh pemikiran manusia yang terus berkembang dan kemajuan tekmologi itu muncullah sebuah konsep yang saat ini mulai banyak diterapkan yakni Green Construction atau konstruksi hijau.

Proses konstruksi hijau melibatkan perencanaan, desain, konstruksi, dan operasi bangunan dengan mempertimbangkan penggunaan energi, penggunaan air, dan kualitas lingkungan dalam ruangan, dan materialnya. Karena industri konstruksi melibatkan sejumlah proses yang besar-besaran yang tidak hanya berpengaruh pada kehidupan ekonomi dan sosial tetapi juga pada lingkungan alam sekitarnya, maka diharapkan konsep ini diterapkan dengan mencari bahan-bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi di kemudian harinya. Penerapan konsep konstruksi hijau diaplikasikan pada Green Building atau bangunan hijau.

Pada dasarnya bangunan ‘hijau’ atau Green Building adalah bangunan yang, dalam desain, konstruksi, atau operasinya, mengurangi atau meminimalisir atau menghilangkan dampak negatif, dan dapat menciptakan dampak positif, terhadap iklim dan lingkungan alam kita. Dengan kata lain bangunan hijau lebih berfokus dalam melestarikan sumber daya alam yang berharga dan meningkatkan kualitas hidup kita. Mengapa dikatakan demikian? Karena inti dari keseluruhan proyek bangunan hijau adalah pengurangan bahan atau metode yang dapat merusak alam. Menurut Hoffman & Henn (2008), total rata-rata pembangunan di dunia menggunakan 55% kayu, konsumsi air 12,2%, 40% untuk penggunaan listrik yang menghasilkan 36% emisi gas karbon dioksida.

Lalu apa sajakah ktiteria green building atau bangunan hijau? Kriteria bangunan hijau adalah:

  1. Penggunaan energi, air, dan sumber daya lainnya secara efisien,
  2. Penggunaan energi terbarukan, seperti energi matahari, seperti panel surya,
  3. Tidak mencemari lingkungan, meminimalisir limbah, dan penggunaan kembali barang yang telah digunakan dan daur ulang,
  4. Kualitas udara lingkungan indoor yang baik,
  5. Penggunaan bahan yang tidak beracun, etis dan berkelanjutan,
  6. Pertimbangan lingkungan dalam desain, konstruksi dan operasi,
  7. Pertimbangan kualitas hidup penghuni dalam desain, konstruksi dan operasi,
  8. Desain yang dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Penerapan konsep konstruksi hijau tidak luput dari tantangan. Menurut Chau dkk, tantangan dalam konsep konstruksi bangunan hijau adalah dari sisi komoditas, sisi perilaku organisasi dan pribadi, dan dari sisi proses.

  1. Tantangan dari segi komoditas
    • Kurangnya pengetahuan terhadap pengembangan bangunan hijau
    • Kurangnya dana untuk mewujudkan proyek bangunan hijau
    • Kurangnya perhatian dan kepedulian publik terhadap bangunan hijau
  2. Tanggapan organisasi dan pribadi
    • Internsif bagi para investor untuk berinvestasi untuk mewujudkan proyek bangunan hijau,
    • Minimnya pengetahuan tim proyek akan hal-hal teknis yang diterapkan konsep bangunan hijau,
    • Komitmen untuk melestarikan dan melindungi lingkungan yang masih rendah,
    • Komunikasi antara pihak terkait yang masih kurang.
  3. Proses
    • Kurangnya komunikasi antar anggota tim dalam proyek,
    • Masih meragukan konsep bangunan hijau,
    • Ketidaktersediaan bahan yang bersifat ‘hijau’.

Setiap bangunan entah itu rumah, kantor, sekolah, rumah sakit, pusat komunitas, atau jenis struktur bangunan lainnya bisa saja disebut green building asalkan bangunan tersebut memenuhi kriteria yang tercantum di atas. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua green building harus sama. Setiap negara dan wilayah memiliki beragam karakteristik seperti kondisi iklim yang khas, budaya dan tradisi yang unik, beragam jenis dan usia bangunan, atau prioritas lingkungan, ekonomi dan sosial. Hal ini yang menyebabkan timbulnya pendekatan berbeda akan bangunan hijau.

Green construction diharapkan tidak hanya sekedar menjadi konsep semata, melainkan menjadi keharusan demi menjaga lingkungan kita agar tetap sehat. Cepat atau lambat, konstruksi hijau adalah jalan untuk masa depan yang lebih baik. Memang untuk melakukannya butuh biaya yang besar. Namun demi kehidupan yang lebih baik dan demi menjaga lingkungan kita dari bahaya yang dapat mengancam kehidupan, tidak ada salahnya, bukan?

 

baca juga ilmu sipil

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Lihat Juga Artikel Lainnya