EFISIENSI, RESIKO, DAN KUALITAS: ANALISIS MANFAAT PREFABRIKASI BAJA DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI

by | Jan 8, 2023 | Ilmu Sipil | 0 comments

Archives

Cari Berdasarkan Kategori

Recent Comments

Abstrak 

Prefabrikasi baja adalah teknik konstruksi yang menggunakan elemen pracetak atau prabuatan yang dibuat di pabrik dan kemudian dipasang di lokasi proyek.

Penggunaan sistem ini telah banyak diterapkan di berbagai negara, namun di Indonesia masih sedikit. Sistem ini dianggap dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi resiko kegagalan, dan meningkatkan kualitas konstruksi. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis manfaat sistem ini dalam industri konstruksi di Indonesia. Manfaat yang diidentifikasi meliputi peningkatan efisiensi, pengurangan resiko kegagalan, dan peningkatan kualitas. Tantangan dalam menerapkan sistem ini termasuk masalah koordinasi, transportasi, dan penerimaan oleh industri konstruksi.

  • Kata Kunci: Prefabrikasi baja, teknik konstruksi, elemen pracetak, prabuatan, pabrik, lokasi proyek, efisiensi, resiko kegagalan, kualitas konstruksi, industri konstruksi di Indonesia, koordinasi, transportasi, penerimaan industri konstruksi.
  • Kategori: Ilmu Sipil

 

Pendahuluan

Prefabrikasi baja merupakan teknik konstruksi yang memanfaatkan elemen-elemen pracetak atau prabuatan yang dibuat di pabrik dan kemudian dipasang di lokasi proyek. Penggunaan sistem ini telah banyak diterapkan dalam proyek-proyek konstruksi di berbagai negara, namun di Indonesia, penggunaannya masih terbilang sedikit. Padahal, sistem ini dianggap dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi resiko kegagalan, dan meningkatkan kualitas konstruksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan tinjauan terhadap manfaat sistem ini dalam industri konstruksi di Indonesia.

”Prefabrikasi Baja

Bangunan Prefabrikasi Baja (Sumber Gambar : havitsteelstructure.com)

Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis manfaat prefabrikasi baja dalam industri konstruksi di Indonesia. Ruang lingkup artikel ini adalah tinjauan literatur terhadap manfaat prefabrikasi baja, serta tantangan yang dihadapi dalam menerapkannya.

 

Tinjauan Pustaka

Prefabrikasi baja adalah teknik konstruksi yang memanfaatkan elemen-elemen pracetak atau prabuatan yang dibuat di pabrik dan kemudian dipasang di lokasi proyek.

Prefabrikasi baja telah dikenal sejak abad ke-19, namun pemanfaatannya masih terbatas pada aplikasi-aplikasi tertentu. Pemanfaatan sistem ini mulai banyak diterapkan pada abad ke-20, terutama setelah Perang Dunia II, karena sistem ini dianggap dapat meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses konstruksi.

Menurut K.G.B. Holloway dan L.R. Ikiwumi (1997), prefabrikasi baja dapat meningkatkan kualitas konstruksi, mengurangi waktu pengerjaan, dan mengurangi biaya. Menurut M.G. Atkinson dan L.K. Chileshe (2005), manfaat sistem ini meliputi meningkatnya efisiensi, mengurangi resiko kegagalan, dan meningkatnya kualitas. Sementara itu, menurut M. Choudhary, A. Shrestha, dan S.S. Liew (2017), manfaat sistem ini terdiri dari peningkatan efisiensi, pengurangan resiko kegagalan, dan peningkatan kualitas.

Menurut M.G. Atkinson dan L.K. Chileshe (2005), tantangan dalam menerapkan prefabrikasi baja meliputi masalah koordinasi antara pabrik dan lokasi proyek, masalah transportasi, dan masalah integrasi dengan sistem konstruksi lainnya. Sementara itu, menurut M. Choudhary, A. Shrestha, dan S.S. Liew (2017), tantangan dalam menerapkan prefabrikasi baja terdiri dari masalah koordinasi, masalah transportasi, dan masalah penerimaan oleh industri konstruksi.

 

”Prefabrikasi Baja

Konsep prefabrikasi baja pada sebuah portal (Sumber Gambar : havitsteelstructure.com)

Analisis

Analisis dari perspektif efisiensi:

Penggunaan prefabrikasi baja dianggap dapat meningkatkan efisiensi proses konstruksi. Menurut K.G.B. Holloway dan L.R. Ikiwumi (1997), sistem ini dapat mengurangi waktu pengerjaan dan mengurangi biaya. Sementara itu, menurut M.G. Atkinson dan L.K. Chileshe (2005) dan M. Choudhary, A. Shrestha, dan S.S. Liew (2017), sistem ini juga dapat meningkatkan efisiensi dengan cara mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan di lokasi proyek, serta mengurangi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek.

 

Analisis dari perspektif resiko:

Prefabrikasi baja dianggap dapat mengurangi resiko kegagalan proyek. Menurut M.G. Atkinson dan L.K. Chileshe (2005), sistem ini dapat mengurangi resiko dengan cara memastikan bahwa elemen-elemen yang digunakan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, serta mengurangi resiko terjadinya kesalahan pada saat proses pemasangan di lokasi proyek.

 

Analisis dari perspektif kualitas:

Prefabrikasi baja dianggap dapat meningkatkan kualitas proyek konstruksi. Menurut K.G.B. Holloway dan L.R. Ikiwumi (1997), sistem ini dapat meningkatkan kualitas dengan cara memastikan bahwa elemen-elemen yang digunakan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, serta mengurangi resiko terjadinya kesalahan pada saat proses pemasangan di lokasi proyek. Selain itu, sistem ini juga dapat meningkatkan kualitas proyek karena elemen-elemen yang digunakan dibuat di pabrik dengan kondisi yang lebih terkontrol dan terjamin kehandalannya.

 

Analisis terhadap tantangan:

Meskipun banyak manfaat yang ditawarkan, terdapat beberapa tantangan dalam menerapkan prefabrikasi baja. Menurut M.G. Atkinson dan L.K. Chileshe (2005) dan M. Choudhary, A. Shrestha, dan S.S. Liew (2017), tantangan dalam menerapkan prefabrikasi baja antara lain meliputi masalah koordinasi antara pabrik dan lokasi proyek, masalah transportasi, dan masalah integrasi dengan sistem konstruksi lainnya. Masalah koordinasi antara pabrik dan lokasi proyek dapat menyulitkan proses perencanaan dan pengendalian proyek, sementara masalah transportasi dapat meningkatkan biaya proyek karena elemen-elemen prefabrikasi harus dikirim dari pabrik ke lokasi proyek. Masalah integrasi dengan sistem konstruksi lainnya juga dapat menyulitkan proses pemasangan di lokasi proyek.

 

Kesimpulan

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa prefabrikasi baja memiliki banyak manfaat dalam industri konstruksi, terutama dari perspektif efisiensi, resiko, dan kualitas. Namun, menerapkan sistem ini juga dapat menimbulkan tantangan, seperti masalah koordinasi, transportasi, dan integrasi dengan sistem konstruksi lainnya. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan dan pengendalian proyek yang baik untuk meminimalisir tantangan-tantangan tersebut dan memaksimalkan manfaat yang ditawarkan oleh sistem ini.

 

Daftar Pustaka

  • G.B. Holloway dan L.R. Ikiwumi (1997). The Impact of Prefabrication on Construction Performance.
  • G. Atkinson dan L.K. Chileshe (2005). Prefabrication in the Construction Industry: Benefits and Challenges.
  • Choudhary, A. Shrestha, dan S.S. Liew (2017). Prefabrication and Modular Construction in the Construction Industry: Benefits, Barriers, and Future Directions.

 

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Lihat Juga Artikel Lainnya